Ada apa dengan Belanda?
Pertanyaan itulah yang tepat untuk diajukan pada skuat asuhan Danny Blind saat ini.
Sanggup menjadi finalis Piala Dunia 2010 dan semi-finalis Piala Dunia 2014, Belanda kini terancam tidak lolos ke putaran final Euro 2016 in Prancis, menyusul dua kekalahan beruntun dari Islandia dan Turki dalam dua pertandingan kualifikasi terakhir.
Semua pihak saling menyalahkan. Banyak yang menyalahkan Bruno Martins Indi karena menerima kartu merah pada laga kontra Islandia. Wesley Sneijder bahkan menyebut kejadian tersebut sebagai 'pengubah permainan'.
Namun apa yang sebenarnya terjadi? Murni kesalahan taktik kah? Menurunnya kualitas pemain kah?
Mari kita jabarkan beberapa masalah Belanda satu persatu.
Kurangnya mental bertanding
Ketiadaan pemain senior yang berpengaruh dinilai sebagai salah satu penyebab lemahnya mental bertanding yang dimiliki skuat Belanda saat ini.Memang masih ada Robin van Persie, Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Klaas Huntelaar di dalam tim, namun mereka bukanlah sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan yang cukup tinggi.
Dalam skuat Belanda saat ini, tidak ada lagi nama-nama seperti Mark van Bommel dan Giovanni van Bronckhorst yang mengantar Belanda menjadi runner-up Piala Dunia 2010.
Terlebih, pelatih mereka saat ini, Danny Blind, bukanlah sosok yang berapi-api dalam mengobarkan semangat anak asuhnya dalam pertandingan. Bandingkan dengan Louis van Gaal yang mendampingi skuat muda Belanda di Piala Dunia 2010, yang kharisma dan reputasinya telah diakui dunia.
Keberadaan seorang pemimpin dalam sebuah kelompok memang mutlak diperlukan, karena ia menjadi seorang yang terus menyemangati dan mengarahkan kelompok tersebut hingga mencapai tujuan.
Sosok pemimpin sejati inilah yang kini hilang dari Belanda.
Absennya gelandang petarung
Nigel de Jong benar-benar sosok yang dibutuhkan di lini tengah Belanda saat ini. Keberadaannya dalam skuat Belanda untuk Piala Dunia 2010 dan 2014 jelas bukanlah suatu kebetulan.Pemain AC Milan tersebut merupakan seorang petarung di lapangan. Ia juga berani berduel di lini tengah, membuat rekan-rekannya lebih tenang dalam menginisiasi permainan.
Faktanya, saat ini tidak ada lagi sosok yang mampu menggantikan peran de Jong di lini tengah. Davy Klaasen jelas bukanlah seorang petarung, sementara Daley Blind tidak cukup kuat untuk dapat berduel sendirian di lini tengah.
Akhirnya, tidak ada yang menjadi filter pertama saat tim lawan menyerang. Hasilnya? Empat gol diderita Belanda dari dua pertandingan.terakhir.
Kesalahan taktikal
Pada dua pertandingan terakhir, Danny Blind menggunakan dua formasi yang berbeda.Pada pertandingan kontra Islandia, ia memakai 4-2-3-1 dengan double pivot.
Pada pertandingan kontra Turki, ia menggunakan formasi 4-3-3.
Disini sekilas bisa kita lihat kelemahan tim oranje terletak di lini pertahanan. Pada dua pertandingan tersebut, Blind memasang dua bek tengah, yaitu Stevan de Vrij dan Bruno Martins Indi saat melawan Islandia serta de Vrij dan Jeffrey Bruma saat melawan Turki.
Kedua bek tengah Belanda tidak cukup kuat dalam membendung serangan lawan.
Belum lagi lemahnya sistem double pivot mereka dalam menangkis serangan lawan, sehingga para penyerang lawan langsung berhadapan dengan kedua bek tengah.
Bandingkan dengan skema tiga bek pada masa kepelatihan van Gaal, atau duet kokoh John Heitinga dan Joris Mathijsen, yang didampingi oleh bek berpengalaman van Bronckhorst, pada Piala Dunia 2010, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Belanda harus dapat memperbaiki ketiga masalah di atas pada sisa dua pertandingan kualifikasi terakhir jika ingin lolos ke Euro 2016 di Prancis. Itu pun kalau mereka tidak terpeleset dan mampu mengalahkan Turki dalam perebutan posisi ketiga grup A.

0 komentar:
Posting Komentar